Denpasar, (20/9) – PT SUCOFINDO (PERSERO) mendorong penguatan inovasi yang dapat memberikan dampak lebih luas bagi keberlanjutan bisnis dan ketahanan masyarakat melalui ajang Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 (10/9). Dua isu strategis yang menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan ENSIA tahun ini adalah pengembangan pasar karbon dan penguatan ketahanan rantai pasok pangan.
Mengusung tema “Innovation for Sustainable Business and Resilient Community”, ENSIA 2026 tidak hanya menjadi ajang apresiasi terhadap inovasi, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan dan perspektif untuk mendorong penerapan inovasi dalam menjawab tantangan ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Senior Researcher Korea Research Institute on Climate Change (KRIC), Bonn Choi, menyampaikan bahwa implementasi Artikel 6 Perjanjian Paris (Paris Agreement) membuka peluang pengembangan mekanisme pasar karbon sebagai salah satu instrument efektif pengurangan emisi.
Dalam paparannya bertajuk “Operationalizing Article 6 of the Paris Agreement: Carbon Market Mechanisms and Lessons from Northeast Asia for ASEAN’s Sustainable Business Transitions”, Bonn menjelaskan bahwa investasi pada teknologi inovatif dan fasilitas rendah emisi dapat menghasilkan reduksi emisi gas rumah kaca yang bernilai ekonomi melalui mekanisme pasar karbon sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pengurangan emisi dapat memberikan dua manfaat utama, yaitu mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) sekaligus membuka peluang pendapatan baru melalui transaksi perdagangan karbon,” ujar Bonn.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan proyek pengurangan emisi di berbagai sektor, mulai dari energi, efisiensi energi rumah tangga, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, kehutanan, hingga teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS). Karena itu, akselerasi pasar karbon perlu didukung identifikasi sektor prioritas, penguatan regulasi, dan integrasi berbagai sumber pengurangan emisi ke dalam Emissions Trading System (ETS).
“Dengan mengidentifikasi sektor prioritas, Indonesia dapat mengarahkan investasi karbon secara terukur pada proyek-proyek yang memiliki dampak lingkungan riil, manfaat ekonomi nyata, dan kontribusi pembangunan yang lebih besar,” jelasnya.
Selain pasar karbon, ENSIA 2026 mendorong perhatian terhadap ketahanan rantai pasok pangan sebagai fondasi ketahanan nasional. Asisten Deputi Logistik Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Ridky Irfan Wirautama, menyampaikan bahwa sektor pertanian dan pangan menjadi salah satu prioritas pemerintah. Namun, ketahanan pangan
menghadapi tantangan multidimensi, mulai dari perubahan iklim, dinamika ekonomi global, gejolak harga pangan, bencana alam, kesiapan infrastruktur logistik hingga penyusutan lahan produktif.
“Di tengah berbagai tantangan tersebut, inovasi menjadi salah satu solusi kunci. Transformasi pengelolaan sampah, termasuk pengolahan sampah menjadi energi listrik, menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dialihfungsikan menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus bagian dari solusi energi,” kata Ridky.
Pemerintah juga terus memperluas penerapan ekonomi sirkular pangan serta memitigasi dampak fenomena iklim ekstrem. Pada aspek logistik maritim, pengembangan pelabuhan hijau dan cerdas (green and smart port) digalakkan dengan memadukan digitalisasi, tata kelola modern, budaya Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) serta prinsip 3R (reduce, reuse, recycle).
Pengembangan ekonomi biru (blue economy) turut menjadi pilar penguatan ketahanan pangan sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru kawasan pesisir, melalui pemenuhan kebutuhan pangan berprotein, penciptaan lapangan kerja, dan peluang investasi.
“Pada 2026, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dicanangkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisir yang mengintegrasikan rantai nilai dari hulu ke hilir, mulai dari produksi penangkapan, pengolahan, fasilitas pendingin dan penyimpanan, hingga jaringan distribusi pasar,” ujar Ridky.
Ridky menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan penyelarasan kebijakan agar rantai pasok dan logistik komoditas pangan dapat berjalan efektif serta menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
“Melalui kolaborasi dan penyelarasan arah kebijakan pangan lintas sektor, kita dapat memastikan kelancaran sekaligus memperkuat rantai pasok dan logistik komoditas pangan agar dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia,” tutup Ridky.
Tentang SUCOFINDO
22 Oktober 1956. PT SUCOFINDO (PERSERO) saat ini tergabung menjadi bagian holding BUMN Jasa Survei atau PT IDSurvey (PERSERO) bersama PT Biro Klasifikasi Indonesia (PERSERO), serta PT Surveyor Indonesia (PERSERO).
Bisnis PT SUCOFINDO (PERSERO) bermula dari jasa pemeriksaan dan pengawasan di bidang perdagangan membantu pemerintah dalam menjamin kelancaran arus barang dan pengamanan devisa negara. Seiring waktu PT SUCOFINDO (PERSERO) melakukan diversifikasi jasa di bidang, laboratorium analitis, keteknikan, audit, sertifikasi, assessment, konsultansi, pelatihan, dan berbagai kegiatan penunjang terkait, di antaranya di bidang pertanian, kehutanan, migas, pertambangan, konstruksi, industri pengolahan, kelautan, perikanan, transportasi, energi baru dan terbarukan, dan teknologi informasi.
PT SUCOFINDO (PERSERO) memiliki lebih dari 93 titik layanan yang tersebar di seluruh Indonesia, dikelola secara terpadu dan didukung oleh para ahli di berbagai bidang. jaringan 68 laboratorium yang tersebar luas menghadirkan solusi yang cepat, dekat, dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan di seluruh penjuru tanah air.
—–
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:
PT SUCOFINDO (PERSERO)
Divisi Sekretariat Perusahaan
Telepon : +62 21 798 3666
Faksimili : +62 21 798 3888
Email : humas@sucofindo.co.id





